Kamis, 01 November 2012

Silsilah Wayang Indonesia

Sumber : Saking maneka warna sumber
 
WAYANG; Membayangi Sejarah Bangsa
Hanonton ringgit manangis asekel muda hidepan, huwus wruh towin jan walulang inukir molah angucap, hatur ning wang tresneng wisaya malaha tan wihikana, ri tatwan jan maya sahan-haning bhawa siluman. (Ada orang melihat wayang menangis, kagum, serta sedih hatinya. Walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit yang dipahat berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara. Yang melihat wayang itu umpamanya orang yang bernafsu keduniawian yang serba nikmat, mengakibatkan kegelapan hati. Ia tidak mengerti bahwa semua itu hanyalah bayangan seperti sulapan, sesungguhnya hanya semu saja).

UNESCO, Badan Dunia di Bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan telah menetapkan wayang Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia Nonbendawi (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) yang perlu dilestarikan. Penetapan itu menyiratkan pengakuan bahwa wayang Indonesia adalah karya budaya autentik atau indigenous bangsa Indonesia. Namun, ternyata cukup sulit untuk mendapatkan informasi atau data sejarah yang autentik menyangkut wayang Indonesia. Ini mengingat tradisi (sistem) dokumentasi pada bangsa kita memang lemah.
Sangat sedikit sumber tertulis ataupun temuan arkeologis autentik yang bisa memberikan penjelasan dengan data yang valid tentang hal itu. Petikan bait 59 Kakawin Arjuna Wiwaha karya Pu Kanwa (1030) yang dikutip di atas bisa disebut satu-satunya sumber tertulis tertua dan autentik tentang pertunjukan wayang kulit yang mulai dikenal di Jawa, yaitu pada masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga di Kerajaan Kadiri. Satu-satunya data arkeologis berupa temuan prasasti pada masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung (899-911 M) menyebutkan, Sigaligi mawayang hayam macarita Bima ya kuwara. Ini menjelaskan bahwa pertunjukan wayang (mengambil lakon Bima di masa muda) untuk keperluan upacara telah dikenal pada masa itu. Pada masa sesudahnya, zaman Airlangga (1019-1037), wayang telah menjadi seni pertunjukan untuk umum. Namun, aspek pertunjukan lain sama sekali tidak tergambarkan.
Walau demikian, besar kemungkinan (pertunjukan) wayang telah dikenal jauh sebelum itu. Ini mengingat, kisah-kisah dalam pewayangan berkaitan erat dengan tradisi Hinduisme dan kehadiran agama Hindu di sini. Makna agama Hindu dan Hinduisme sendiri niscaya jauh lebih luas daripada sekadar kisah pewayangan belaka. Hinduisme, menurut berbagai sumber sejarah, paling tidak dikenal di Nusantara sejak abad ke-5 Masehi, di antaranya pada masa Kerajaan Mulawarman di Kutai, Kalimantan Timur. Kemudian Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat sebelum Mataram (Medang) di Jawa Tengah pada abad ke-7. Bahkan, tidak mustahil tradisi Hindu sudah dikenal sebelum itu, yakni semenjak terjadi proses penghinduan atau indianisasi di seluruh wilayah Asia Tenggara sekitar abad ke-2 atau ke-1 Masehi. Ini untuk menjelaskan bahwa budaya wayang telah merasuk dan berkembang sejak lama di tengah masyarakat kita.
KEYAKINAN bahwa wayang merupakan produk budaya sejati bangsa Indonesia antara lain ditegaskan oleh pakar wayang, Prof Dr Soetarno, Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Surakarta, yang di antaranya membawahi Jurusan Pedalangan. Ia menguraikan argumentasinya secara panjang lebar, baik dari segi sejarah, pengetahuan, konsep estetika maupun teknis, serta filosofis. Wayang, ujarnya, telah dikenal secara meluas di sini dalam bentuk relief di candi, pertunjukan, karya sastra, dan tradisi oral. Menurut Soetarno, istilah “wayang” sendiri mulai disebut pada Bait 664 Kitab Bharatayudha karya Pu Sedah (1157 M). Juga dalam Kitab Tantu Panggelaran (abad ke-12) disebutkan tentang wayang yang menggunakan bahan dari kulit binatang yang ditatah. Adapun kelir (layar) juga telah digunakan pada masa itu (Kitab Wreta Sancaya). Pada pertengahan abad ke-12, iringan musik untuk pementasan wayang antara lain berupa tudungan dan saron kemanak. Adapun pada Kitab Negarakertagama (abad ke-15) disebutkan, iringan musiknya berupa tambur, gambang, kala, sangha, dan kemanak.
GAJ Hazeu, seorang ahli bahasa dari Belanda yang meneliti tentang wayang, pada tahun 1897 meyakini pula bahwa wayang merupakan hasil kebudayaan Jawa. Ini didasarkan etimologi istilah-istilah yang dikenal dalam pementasan wayang, yaitu dalang, kelir, wayang, keprak, dan blencong. Secara leksikon, wayang berarti bayangan. Disertasi Hazeu di atas merupakan hasil penelitian ilmiah tentang wayang yang pernah dilakukan meski lebih dari sudut linguistik, karenanya juga menjadi sumber informasi paling valid. Namun, sesungguhnya hingga sekarang amat sedikit hasil penelitian, baik dari luar maupun dalam negeri, mengenai (sejarah) pertunjukan wayang. Priyohutomo pada tahun 1933 menulis disertasi berjudul Nawaruci, juga dari sudut linguistik. Sejumlah sumber tertulis lain seperti Serat Centhini (1823) dan Sastramiruda (1920) juga menyinggung tentang wayang, namun itu lebih didasarkan pada tradisi oral sehingga sulit diyakini validitasnya. Kemudian, Prof Poerbatjaraka dalam Kapustakan Jawi (1952) memaparkan sejumlah hasil penelitian yang di antaranya mengungkap tentang sejarah wayang.
Bagaimana bentuk wayang pada masa itu? Mula-mula, pelukisan sosok wayangnya dibikin “realis” (tiga dimensi), seperti sosok wayang pada relief di Candi Prambanan (abad ke-10), Jawa Tengah. Pada masa Majapahit (abad ke-13), bentuk wayang dibikin agak miring (menyamping), meniru relief di Candi Penataran, Jawa Timur, (bentuk autentiknya bisa kita lacak pada wayang Bali saat ini). Keberadaan candi-candi di atas menunjukkan pengaruh kuat agama Hindu di Jawa. Apalagi relief atau arca yang terdapat di candi-candi tersebut banyak melukiskan fragmen-fragmen cerita “wayang”. Candi Prambanan memuat kisah epos Ramayana. Candi Sukuh memuat lakon Sudamala dan Bima Suci yang merupakan bagian dari epos Mahabharata. Candi Panataran, Jawa Timur, memuat Ramayana dan Kresnayana.
Dalam proses yang panjang, antara abad ke-11 hingga akhir abad ke-18, pertunjukan wayang kulit purwa tampaknya terus mengalami perkembangan disertai inovasi-inovasi, baik menyangkut aspek estetika pertunjukan maupun pemaknaan (filsafat). Proses “penyempurnaan” wayang hingga ke bentuk yang kita kenal sekarang berlangsung sejak Kerajaan Demak kemudian Pajang, Mataram, hingga Kartasura. Mulai masa Kerajaan Demak (abad ke-15), tokoh wayang di atas kulit binatang mengalami stilisasi, yaitu sepenuhnya miring (dua dimensi). Ada yang menyebutkan bahwa perubahan tersebut akibat pengaruh agama Islam yang dalam syariahnya menolak pencitraan manusia secara “realis”. Pada masa itu, Sunan Kalijaga konon sangat berperan dalam inovasi pertunjukan wayang kulit ini. Kalijaga yang juga piawai mendalang memanfaatkan media tersebut untuk menyampaikan dakwah.
Pada masa Demak itu, sosok wayang dilengkapi dengan anggota tubuh (tangan) yang bisa digerakkan atau “lepas” (dengan sumbu pada lengan) seperti sekarang. Diciptakan pula ricikan berupa senjata dan hewan sehingga pertunjukan lebih menarik. Estetika menyangkut seni rupa wayang menunjukkan terjadinya inovasi dari waktu ke waktu, baik menyangkut sosok wayangnya sendiri maupun teknik permainannya. Para seniman perupa pada masa itu menuangkan kreativitas mereka dalam berbagai kreasi dan setiap wilayah (komunitas) menemukan kekhasan mereka sendiri. Apakah itu menyangkut karakter sosok, wanda, ukuran tinggi, gelung, ornamen, aksesori, tatahan, sunggingan (pewarnaan), hingga ke gaya pedalangan.
ALHASIL, dari data sejarah di atas dan proses perkembangan yang dialami, berbagai pihak meyakini bahwa wayang adalah karya budaya “asli” karena lahir dan mengalami proses panjang di Indonesia. Meski tidak diingkari bahwa cerita-cerita pewayangan berasal dari tradisi Hinduisme di India, sebagai produk kebudayaan, wayang mengalami proses “pencanggihan” sendiri di bumi nusantara. Kompleksitas dan intensitas proses pencanggihan pada pertunjukan wayang yang meliputi berbagai aspeknya itu agaknya tidak kita kenal pada produk budaya yang lain di nusantara.
Wayang bukan hanya sebatas seni pertunjukan, tetapi juga telah menjadi satu kebudayaan yang tak terpisah dari terbentuknya peradaban bangsa Indonesia. Melalui wayang, kita melihat suatu proses kebudayaan yang menurut para ahli, “tidak terjadi di ruang kosong”. Wayang berkembang menjadi ekspresi budaya yang autentik bagi bangsa Indonesia. Selain di Jawa dan Bali, wayang sempat berkembang di Kalimantan, Sumatera, dan Lombok. Secara obyektif, wayang yang berkembang di Indonesia berbeda cukup signifikan dengan wayang yang ada di India (ataupun di Thailand). Termasuk aspek-aspek pertunjukan yang menyertainya, yaitu menyangkut susastra, iringan musik (karawitan), dramatisasi atau seni pemanggungan. Sementara dari sisi pemaknaan, wayang telah mengendapkan nilai-nilai filosofis yang mengekspresikan sekaligus merepresentasikan peri kehidupan bangsa Indonesia. Bahkan, dalam perkembangannya, kisah-kisah wayang yang tercipta dan kemudian memasyarakat merupakan hasil local genious.
Kakawin Arjuna Wiwaha, misalnya, berbeda dari cerita aslinya dalam Mahabharata di India. Arjuna Wiwaha ditulis oleh Pu Kanwa sebagai metafora perjalanan hidup Raja Airlangga. Dengan menyebutkan Airlangga sebagai titisan Wisnu, karya sastra ini menjadi legitimasi bagi Airlangga untuk memegang tampuk kekuasaan. Begitu pula dengan Bharatayuddha gubahan Pu Sedah dan Pu Panuluh (1157 M) yang berbeda dari aslinya. Dan pada pertengahan abad ke-19, Mangkoenagoro IV menciptakan kisah Dewa Ruci. Ini kisah Bima yang mencari air amerta dan disimbolkan sebagai pencarian akan sangkan paraning dumadi (asal-usul kehidupan), satu laku mistik khas Jawa.
Sebagai hasil interaksi, budaya wayang mempengaruhi segala ekspresi keseharian masyarakat, termasuk dalam pembentukan adat istiadat, tradisi, filsafat, ajaran-ajaran moral, dan etika. Pada masa itu, hubungan antara pertunjukan wayang dan masyarakat niscaya bukan sekadar interaksi antara publik dan tontonannya belaka. Ini pada gilirannya memberikan pengaruh bagi pembentukan nilai-nilai yang kompleks dalam tatanan sosial serta ketatanegaraan. Wayang pada masanya merupakan bagian tak terpisah dari kepercayaan Hinduisme. Barangkali bisa diibaratkan, agama Hindu sebagai daging, sedangkan wayang sebagai aliran darahnya. Wayang bagi masyarakat ketika itu bukan semata-mata mitologi (kisah para dewa), melainkan telah menjadi bagian dari kosmologi (dunia pikir) yang memiliki pengaruh kuat dalam menentukan kehidupan sehari-hari. Barangkali, secara mudah di zaman ini kita bisa meniliknya pada peri kehidupan umat Hindu di Bali.
DARI zaman ke zaman, inovasi dan kreasi-kreasi dari berbagai aspek pertunjukan wayang ini mengalami perkembangan secara intensif. Pertunjukan wayang sendiri kemudian juga mengalami keragaman bentuk dan media. Selain wayang kulit purwa (dengan kisah Ramayana dan Mahabharata), ada pula wayang beber (kisah Panji). Kemudian dikenal wayang madya (zaman sesudah Parikesit), wayang gedog (siklus Panji), wayang klithik (kisah Damarwulan), wayang golek (dari Serat Menak), wayang dupara (Babad Mataram II), wayang krucil (kisah Damarwulan), wayang kancil (fabel), wayang perjuangan (1945), wayang suluh (1945), wayang pancasila (1947), wayang wahyu (1960), wayang buddha (1979), wayang sandosa (1980), wayang sadhat (1984), wayang kampung (2002), dan wayang sang pamarta (2003).
Belum lagi yang mengambil bentuk atau media pertunjukan lain, seperti wayang orang, wayang topeng, langen mandra wanaran, sendratari wayang, wayang jemblung. Dan dalam bentuk kontemporer muncul kreasi wayang nggremeng, wayang suket. Setelah kemerdekaan, wayang juga dikenal lewat komik antara lain oleh pelukis RA Kosasih, Ardisoma, Urip, Indri S, Effendi, Jan Mintaraga, dan Teguh Santosa. Wayang pernah dibikin lewat media film, sinetron di televisi, belakangan lahir pula wayang multimedia, wayang animasi, wayang listrik, wayang cyber. Dan tak kurang pula teater modern yang mengambil inspirasi cerita dari kisah pewayangan, begitu juga dalam bentuk cerita pendek dan novel.
Wayang agaknya akan terus mengilhami ekspresi-ekspresi budaya dalam beragam bentuk dan media di Indonesia. Bentuknya bisa berubah dan mengalami metamorfosa di luar perkiraan kita. Namun, lebih dari itu, kosmologi wayang tampaknya akan terus memberikan jejak pengaruh cukup jelas dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.(Ardus M Sawega) SAKING MANEKA WARNA SUMBER

Selasa, 30 Oktober 2012

Info NUPTK 2012 dari LPMP


INFO NUPTK : 28 Okt 2012 LPMP Jateng
Sekilas Info :
1. Perlu kami sampaikan Standar Operasional Prosedur Pendataan NUPTK tahun 2012 yang dikeluarkan Oleh BPSDMPK-PMP Kemdikbud, bahwa NUPTK sejak 1 Januari 2012 diberikan hanya kepada Guru Tetap Yayasan di Sekolah Swasta atau Guru PNS. Guru Tidak Tetap di sekolah swasta harus memiliki SK PENGANGKATAN dari KETUA YAYASAN (bukan Kepala Sekolah) dan bagi Guru Tidak Tetap di sekolah negeri harus memiliki SK PENGANGKATAN dari Bupati/Walikota.
2. Terkait hal tersebut, kami sampaikan bahwa perbaikan data NUPTK bagi GURU YG TELAH MEMILIKI NUPTK telah kami laksanakan bulan Juli-Agustus 2012 melalui Lembar Koreksi Data (LKD). Sedangkan PENGAJUAN NUPTK BARU belum dapat difasilitasi sampai waktu yang belum ditentukan oleh Tim NUPTK Pusat. Sehingga kami dari Tim NUPTK Provinsi Jawa Tengah juga masih menunggu perubahan kebijakan dari Pusat.
3. NUPTK yang sudah terbit dapat dilihat di nuptk.kemdikbud.go.id.
4. Verifikasi ulang NUPTK akan kami laksanakan akhir Oktober, Bagi GURU BER NUPTK untuk menjaring perbaikan data yang belum masuk dalam Updating Data Bulan Juli-Agustus.
FAQ:
1. Apakah NUPTK pada GTT yang diangkat oleh kepala sekolah akan ditarik?
Jawab : TIDAK, itu hanya untuk yang akan membuat NUPTK Baru
2. Saya sudah mengurus NUPTK 2 tahun yang lalu tapi belum keluar, bagaimana solusinya?
Jawab : Pastikan data anda sudah betul atau valid, cek data di Operator NUPTK di dinas pendidikan kabupaten.
3. Bisakan saya mengurus NUPTK di LPMP biar lebih cepat?
Jawab : LPMP tidak berwenang mengeluarkan NUPTK, silahkan ke operator dinas pendidikan kabupaten masing masing.
4. Saya di tawari bantuan pengurusan NUPTK/sertifikasi/UKA/PLPG oleh seseoarang dengan biaya tertentu, betulkah bisa?
Jawab : PENIPUAN, tidak ada yang bisa membantu pengurusan seperti itu. Selain melanggar aturan juga berdosa secara agama.
Semoga Bermanfaat
sumber: http://lpmp.wordpress.com/2012/10/28/berita-nuptk/

Sejarah Aksara Jawi


Ing rubrik LSW JB No. 28 Minggu II sasi Maret 2006, Bapak Yusuf Asmara mundhut priksa bab sejarahe akasara Jawa. Yen ora kleru sing dikersakake Bapak Yusuf Asmara iku aksara Jawa anyar kanthi aksara legena cacah 20 wiwit HA nganti NGA. Yen bener mangkono, keparenga penulis ngaturake tulisan bab sejarahe aksara Jawa kasebut, ringkesan saka sawatara buku-buku kapustakan. Ing buku HA NA CA RA KA (Bp. Slamet Riyadi) babarane Yayasan Pustaka Nusantara Yogyakarta diandharake manawa ngrembug sejarahe aksara Jawa anyar kang uga diarani sastra sarimbagan utawa carakan iku ora bisa dipisahake karo rembug bab kelairan lan pandhapuke aksara kasebut. Miturut Bp Slamet Riyadi ing bukune kang isi kelairan, penyusunan, fungsi, lan maknane Ha-Na-Ca-Ra-Ka kasebut ana konsepsi cacah loro kanggo nlusur kelairane aksara Jawa lan penyusunan abjad ha-na-ca-ra-ka, yaiku konsepsi secara tradisional lan konsepsi secara ilmiah.
KONSEPSI SECARA TRADISIONAL Adhedhasar konsepsi secara tradisional laire aksara Jawa digathukake karo Legenda Aji Saka, crita turun-temurun awujud tutur tinular (dari mulut ke mulut) bab padudon lan perang tandhinge Dora lan Sembada jalaran rebutan keris pusakane Aji Saka sing kudune tansah padha direksa bebarengan ing pulo Majeti. Wusana Dora lan Sembada mati sampyuh ngeres-eresi. Nalika arep angejawa, Aji Saka kang didherekake para abdine sing jenenge Dora, Sembada, Duga, lan Prayoga lerem ing pulo Majeti sawatara suwene. Sadurunge nerusake laku angejawa, Aji Saka ninggal pusaka awujud keris. Dora lan Sembada kapatah ngreksa kanthi piweling wanti-wanti, aja pisan-pisan diwenehake wong saliyane Aji Saka dhewe sing teka ing pulo Majeti njupuk pusaka kasebut. Aji Saka banjur nerusake laku dikanthi Duga lan Prayoga. Dene Dora lan Sembada tetep ana pulo Majeti ngreksa pusaka.
Sawise sawatara lawase, Dora lan Sembada krungu kabar manawa Aji Saka wis dadi ratu ing Medhangkamulan. Dora ngajak Sembada ninggalake pulo Majeti ngaturake pusaka marang Aji Saka. Sarehne Sembada puguh ora gelem diajak awit nuhoni dhawuhe Aji Saka, kanthi sesidheman si Dora banjur menyang Medhangkamulan tanpa nggawa keris. Marang Aji Saka si Dora kanthi atur dora wadul warna-warna. Dora kadhawuhan bali maneh menyang pulo Majeti. Gelem ora gelem Sembada kudu diajak menyang Medhangkamulan kanthi nggawa keris pusaka. Dora banjur budhal. Jalaran panggah ora percaya marang kandhane si Dora, Sembada puguh ora gelem diajak jalaran nuhoni dhawuhe bendarane, lan precaya manawa Aji Saka bakal netepi janjine mundhut pusakane tanpa utusan. Lelorone padha padudon rebut bener, banjur pancakara perang tandhing rebutan keris. Wasana Dora lan Sembada padha mati sampyuh ketaman keris sing dienggo rebutan.
Sawise sawatara suwe Dora ora sowan maneh ngajak Sembada ngaturake keris pusaka, Aji Saka banjur utusan Duga lan Prayoga nusul menyang pulo Majeti. Bareng tekan pulo Majeti saiba kagete Duga lan Prayoga meruhi Dora lan Sembada padha mati ketaman pusaka sing isih tumancep ing dhadhane. Sawise ngupakara layone Dora lan Sembada kanthi samesthine, Duga lan Prayoga banjur gegancangan marak ratu gustine ngaturake pusaka lan pawarta bab patine Dora lan Sembada. Midhanget ature Duga lan Prayoga, Aji Saka sakala ngrumangsani kalepyane dene ora netepi janji mundhut pribadi pusaka sing direksa Dora lan Sembada. Minangka pangeling-eling, Aji Saka banjur ngripta aksara Jawa legena cacah wong puluh wiwit saka HA nganti NGA. HA NA CA RA KA Ana caraka (utusan) DA TA SA WA LA Padha suwala (padudon, pancakara) PA DHA JA YA NYA Padha dene digdayane MA GA BA THA NGA Wasana padha dadi bathang Iku mau konsepsi secara tradisional bab kelairan lan penyusunane aksara Jawa anyar. Pancen abjad aksara Jawa sing 20 cacahe lan disusun dadi patang larik iku, mujudake guritan sing gampang diapalake lan dieling-eling (memoteknik), mligine tumrap sing lagi wiwit sinau maca lan nulis aksara Jawa. Abjad sing kaya guritan lan digathukake karo legenda Aji Saka mau saya narik kawigaten bareng dikantheni gambar padudon, perang tanding lan mati sampyuhe Dora lan Sembada.
KONSEPSI SECARA ILMIAH Miturut Prof. Dr. Poerbatjaraka, sadurunge wong-wong India angejawa, wong Jawa durung duwe aksara. Basa pasrawungane mung nggunakake basa lesan. Kanthi anane aksara kang digawa saka India kasebut saka sethithik basa tinulis wiwit digunakake. Pancen aksara ora mung dadi piranti komunikasi sarana tulisan, nanging luwih saka iku aksara uga dadi ukuran kemajuane budaya sing ndarbeni aksara kasebut. Peradaban sing wis nggunakake basa tinulis kanyatan luwih maju tinimbang sing ora/durung duwe aksara. Miturut Casparis, sajroning sejarah peradaban etnik Jawa, tulisan sing paling tuwa ditemokake awujud prasasti kanthi nggunakake aksara Pallawa, nuduhake tandha wektu sadurunge taun 700 Masehi. Sadurunge iku etnis Jawa mung nggunakake basa lesan. Sawise ditemokake sawatara prasasti liyane, baka sethithik ditindakake studi paleografi (ilmu kanggo nyinaoni aksara kuna). Miturut studi paleografi sing ditindakake Casparis, ana limang periode aksara Jawa. Periode kapisan (aksara Pallawa) dening Bp. Atmodjo diperang maneh dadi loro.
Kanthi mangkono kabeh ana nem periode, yaiku: 1. Aksara Pallawa tataran wiwitan, digunakake sadurunge taun 700 M. Contone tinemu ing prasasti Tugu ing Bogor. 2. Aksara Pallawa tataran pungkasan, digunakake ing abad VII lan tengahan abad VIII. Tinemu ing prasasti Canggal ing Kedu, Magelang. 3. Aksara Jawa kuna kawitan, digunakake taun 750-925 M, contone tinemu ing prasasti Polengan ing Kalasan, Yogyakarta. 4. Aksara Jawa kuna tataran pungkasan, digunakake taun 925-1250 M, tinemu ing prasasti Airlangga. 5. Aksara Majapait, digunakake ing taun 1250-1450 M. tinemu ing prasasti Singosari lan Malang, sarta ing lontar (ron tal) Kunjarakarna. 6. Aksara Jawa anyar, digunakake taun 1500 M nganti saiki. Tinemu ing Kitab Bonang lan buku-buku sabubare iku. Lair lan ngrembakane aksara Jawa raket sesambungane karo lair lan ngrembakane basa Jawa.
Aksara Jawa anyar lair sawise basa Jawa anyar digunakake kanthi resmi ing sajroning pamarentahan, saora-orane wiwit taun 1500 M. Wektu kasebut punjere pamarentahan ing Jawa ana ing Demak. Mula ana sing duwe panemu manawa aksara Jawa anyar wiwit digunakake kanthi resmi nalika jaman Demak. Panemu iki disengkuyung antara liya karo bukti awujud naskah kanthi tulisan aksara Jawa anyar yaiku Kitab Bonang. Bab taun kelairane aksara Jawa iki padha karo andharane Bp. Moch. Choesni ing majalah JAMBATAN edisi khusus babaran Lembaga Javanologi Surabaya kang didumake marang para peserta Kongres Basa Jawa II ing Batu, Malang sasi Oktober taun 1996. Nanging beda versine. Bapak Moch. Choesni nggathukake kelairane aksara Jawa anyar karo tekane muhibah utawa kunjungan persahabatan saka Tiongkok menyang tanah Jawa (Majapait) kang dipandhegani Laksamana/Jendral Cheng Ho (Jeng Ho) kanthi ngirid wadyabala pirang-pirang ewu cacahe sikep gegaman. Ing rubrik Opini koran Jawa Pos Senen, 15 Agustus 2005, kanthi irah-irahan Cheng Ho dan Nebula China, Dr. Asvi Warman Adam (ahli peneliti LIPI Jakarta) nyebutake ekspedisi kapisan numpak prau cacah 300 kanthi penumpang 27.000. Ma Huan, penerjemah sing wis ngrasuk agama Islam, uga melu dadi penumpang. Bp. Moch. Choesni nyangga-runggekake (meragukan) apa bener tekane caraka kanthi sandiyuda Sam Poo Kong sing diwerdeni tiga perkasa pembalas dendam samono akehe iku ‘kunjungan persahabatan’ kang tulus? Apa ora ana gandheng-cenenge karo pangrabasane wadya bala Tiongkok kang sumedya nguwasani Singasari sing digagalake dening Raden Wijaya lan Arya Wiraraja dhek taun 1293? Ma-ga-ba-tha-nga alias “mangga batangen”, mangkono pepuntoning andharan sawise ngonceki kanthi njlimet surasane ha-na-ca-ra-ka (ana utusan), da-ta-sa-wa-la (tanpa peperangan), lan pa-dha-ja-ya-nya (padha jayane, kasembadan sedyane). Ing ngarep wis diaturake, secara tradisional urutan abjad ha-na-ca-ra-ka digathuk-gathukake karo legenda Aji Saka.
Nanging data literer nuduhake menawa naskah utawa teks sing ngemot urutan utawa abjad ha-na-ca-ra-ka ora mesthi digathukake karo legenda kasebut. Upamane Serat Sastra Gendhing, Serat Centhini, Serat Sastra Harjendra, Serat Saloka Jiwa, lan Serat Retna Jiwa. Kabeh serat (buku/tulisan) kasebut isi abjad ha-na-ca-ra-ka kagandhengake karo filsafat utawa ngelmu kasampurnan. Ing buku HA NA CA RA KA (Bp. Slamet Riyadi), ing perangan kang ngrembug bab makna filosofis ha-na-ca-ra-ka, dibabar ora kurang saka 20 warna filsafat ha-na-ca-ra-ka miturut daya nalar, wawasan, lan tujuane sing gawe makna filosofis dhewe-dhewe. Ing majalah Jambatan kasebut ing ngarep ana nem jinis makna filosofis.
Durung kalebu sing ana makalah-makalah liyane. Beda karo kang kasebut ing Serat Manikmaya, Serat Aji Saka, lan Serat Momana sing padhadene nggathukake karo legenda Aji Saka. Ing buku-buku kasebut abjad ha-na-ca-ra-ka diarani sastra sarimbagan. Jalaran larikan kapisan abjad Jawa anyar iku unine ha-na-ca-ra-ka, mula luwih dikenal kanthi jeneng carakan kaya ing Sundha lan Bali. Miturut panalitine Prof. Dr. Poerbatjaraka, Serat Manikmaya dikarang dening Kartamursadah ing jaman Kartasura, ing taun 1740 Jawa utawa taun 1813 Masehi. Dene abjad Jawa sing luwih tuwa diarani ka-ga-nga, awit manut wewaton abjad Devanagari ka-kha-ga-gha-nga. Serat Manikmaya ditedhak (disalin) dening Panambangan, punggawa Mangkunagaran, lan ing taun 1981 dibabar dening Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kanthi irah-irahan Manikmaya. Apa ana naskah liyane isi legenda Aji Saka sing luwih tuwa tinimbang Serat Manikmaya, durung kaweruhan, awit miturut Wiryamartana naskah-naskah saliyane Serat Manikmaya sing ana abjad hanacaraka-ne keh-kehane ditulis ing wiwitane abad XIX. Yen ta Serat Manikmaya mujudake naskah sing paling tuwa, bisa dipesthekake manawa anane abjad ha-na-ca-ra-ka wiwit jaman Kartasura.
Miturut Uhlenbeck, abjad ha-na-ca-ra-ka digunakake sawise adoh lete karo wektu sedane Sultan Agung (1645 M) utawa antarane jaman Amangkurat I lan Amangkurat II. Bisa uga ing jaman Sultan Agung wis ana gagasan bab abjad kasebut. Bab iki adhedhasar data literer anane restrukturisasi (pemugaran) kabudayan Jawa ing jaman Sultan Agung. Upamane, salah siji sing tumekane saiki bisa kita rasakake, yaiku anane pananggalan Jawa. Pananggalan kasebut mujudake gabungan antarane kalender taun Saka karo kalender taun Hijriah. Kajaba saka iku, ing naskah-naskah sadurunge jaman Sultan Agung ora ana abdjad ha-na-ca-ra-ka. Ora bisa kita selaki aksara Jawa kanthi abjad ha-na-ca-ra-ka sing umure wis atusan taun kasebut wis akeh lelabuhane. Cundhuk karo saya majune panalaran lan wawasane sing duwe kabudayan, aksara Jawa minangka perangane kabudayan Jawa, minangka fungsi literer uga tau ngalami owah gingsir mligine ing bab wewaton panulise basa Jawa nganggo aksara Jawa.
Sadurunge Kongres Basa Jawa I ing Semarang sasi Juli 1991, wis ana ada-ada ngruwat abjad ha-na-ca-ra-ka. Patine Dora lan Sembada kanthi memelas amarga dadi korban pemimpin sing mencla-mencle ora netepi janji, dianggep ora cocok karo alam Indonesia Membangun sing mbudidaya ngundhakake pembangunan lair lan batin. Sawatara pemakalah ing Kongres Basa Jawa III ing Yogyakarta Juli 2001, malah gawe ada-ada owah-owahan bab tata panulise basa Jawa nganggo aksara Jawa. Kepriye babaring lelakon aksara Jawa sateruse, iki pancen dadi PR-e sapa bae kang pancen isih padha ngrumangsani melu handarbeni, hangopeni, lan hangrungkebi budaya Jawa. Ature: M. Soemarsono JB 40/LX, 4-10 Juni 2006
Kaaturake dening: Minggon Jaya Baya | 5/28/2006 02:35:00 PM

Rabu, 03 Oktober 2012

DONGENG JAKA TARUB


Ing satunggaling dusun, wonten sawijining kaluwargi ingkang asma Nyai Randa Wulanjar kaliyan putra kakungipun, kanthi nama Jaka Tarub. Padamelan saben dintenipun pados ron pisang utawi ron jati kangge dipun sade ing peken saklebetipun kitha Kudus. Ron menika dipunlintokaken kaliyan uwos kaliyan sarem kangge kabehanipun saben dinten. Saking tebihipun peken ingkang dipundugeni, mbok randha kaliyan putranipun mbetahaken pinten-pinten minggu menawi tindak peken, awit tebih saking Kitha. Pedamelan sanesipun Jaka Tarub ing saben dintenipun inggih menika mbebedak sato wonten ing wana.
Ing satunggaling wekdal sinambi lelenggahan ing ngajeng pawon, mbok randha nuturi putranipun supados enggal nggadhani sisihan. “Putraku, tak kira umurmu wis cukup kanggo golek sisihan. Miliha prawan saka desa tarub, warung, apa sesela!. Jaka Tarub lajeng mangsuli pun ibu, “Ibu, kula dereng sagah menawi kedah emah-emah wekdal sakmenika. Kula taksih remen saba dateng wana”. Kanthi alus pun Ibu matur malih, “Arep nunggu apa maneh ta putraku, ora patut menawa sliramu ora ndang golek sisihan. Nganti suk kapan? Apa widodari tumurun saka langit???? Jaka tarub “Ampun enggal-enggal duka pun ibu, menawi sampun wekdalipun kula mesti enggal pados sisihan Ibu”. Ibu “Ya wis nek pancen iku dadi kekarepanmu, mung welinge ibu, menawa saba menyang wana, aja munggah gunung, amarga gunung iku panggone angker, akeh jin-jin ing kana”.
Enjingipun, kados adatipun menawi mbebedhak, Jaka Tarub bidal nalaka taksih pajar supados konduripun boten surup. Ananging boten ngertos menapa menika sampun dangu ing wana kok boten angsal punapa-punapa, menika Jaka Tarub nembe apes. Siyang dados sonten, sonten sampun dados dangu lampahipun Jaka Tarub boten manggihi satunggal punapa kemawon sato kewan. Amargi dalu menika padha rembulan, Jaka Tarub kepanggih peksi ingkang warnanipun endah, ananging peksi menika ical lan mlebet dhateng gunung. Namung Jaka Tarub menika boten pedhot kekarepanipun, piyambakipun taksih nglajengaken lampahipun ingkang tebih sanget wonten ing jeronipun wana. Ananging saya dalu Jaka Tarub taksih boten angsal punapa-punapa. Saking sayahipun Jaka Tarub kepengin ngaso lan sumare, amargi lampahipun menika tebih sanget lajeng Jaka Tarub saestu sare ing sakjeronipun wana.
Dalu menika dinten slasa Kliwon. Ing sajroning wana, piyambakipun kaget amargi kepireng suwanten gumujunging tiyang-tiyang estri, kepireng rame sanget. Amargi pengin mangertos suwanten menika sejatosipun saking pundi, pramila Jaka Tarub madosi suanten menika. Piyambakipun menika boten percados menawi ing tengahing wana gung liwang liwung menika wonten suanten widodari-widodari ingkang sami gumujengan sinambi siram lelangin ing sendang. Jaka Tarub nyaketi panggenan widodari menika ingkang nembe siram kala wau, kanthi ndhelih ing sak wingkingipun kajeng ageng. Sanalika Jaka Tarub gadhah pamanggih pengin garwa satunggal widodari kala wau, pramila piyambakipun mundut rasukan satunggal lajeng dipun beta wangsul.
Sak sampunipun dumugi griya, Jaka Tarub lajeng tumuju malih ing wana papan widodari siram kala wau. Jaka tarub lajeng watuk-watuk, saknalika para widadari jumumbul kaget lajeng minggah dateng langit. Ananging wonten satunggal widodari ingkang mboten saged minggah dhateng langit amargi kicalan rasukanipun. Widodari menika gadhah nami Dewi Nawangwulan. Ayunipun mboten wonten ingkang saged nandingi, praupanipun cumlorot kados soroting rembulan ing wanci dalu. Jaka Tarub lajeng nyaket Dewi Nawangwulan, “Saking pundi asal panjenengan yayi, lan sinten asma panjenengan??? Sinambi duka lan nuwun Dewi mangsuli “Aku dudu manungsa, aku widodari, nawangwulan jenengku. Sliramu mesti pirsa menawa aku sak kanca adus ing sedhang mau??? Aja-aja sliramu uga kang ndhelikake kemben lan slendhangku.” Jaka lajeng mangsuli, “o... Yayi, ampun duka, amargi kula saestu mboten mangertos punapa-punapa, kula mboten sengaja liwat ing wana menika, lajeng kepanggih panjenegnan yayi”. Pun ngaten kemawon menawi kula saged paring rasukan dumateng panjenengan, punapa imbalanipun?? Dewi; “Menawi tiyang mudha, badhe kula dodosaken sedherek, menawi tiyang sepuh badhe kula dadosaken bapa kula”. Jaka Tarub lajeng maringi rasukan dhumateng Dewi Nawangwulan, lan dipun reh-reh supados ndherek Jaka Tarub, akhiripun Dewi Nawangwulan luluh manahipu lan kagarwa dening Jaka Tarub.
Ing satunggaling wekdal Nawangwulan sampun kagungan putri saking Jaka Tarub ingkang namanipun Nawangsih. Nawangsih praupanipun kados pun Ibu, praupanipun kados rembulan ingkang sumunar ing nalika dalu. Ing sawijining wedal, amargi kathah rasukan inkang reged, Nawangwulan pamit Jaka Tarub menawi badhe reresik ing lepen. Sakderengipun Nawangwulan tindak lepen, Nawangwulan mawanti-wanti supados nenggani putrinipun, kaliyan nenggani anggenipun adang sekul kanthi manti-manti ampun ngantos mbikak kekep sekulipun. Saktindakipun Nawangwulan wonten lepen Jaka Tarub malah kepengin ngertos isinipun kekep, amargi Jaka Tarub gumun menawi pantun ingkang wonten lumbung kok mboten telas-telas. Ing manah, Jaka Tarub gadhah pemanggih leresipun napa ta ingkang dipun masak pun semah, kok wosipun ing lumbung mboten telas-telas. Jaka Tarub lajeng nggadhahi pamanggih mirsani dandang sekul, sakmenika Jaka Tarub kaget menapa amargi ingkang dipun adang garwanipun. Jaka tarub kaget amrgi ingkang wonten ing dandang namung satunggal pantun kemawon. Sak sampunipun saking lepen, Nawangwulan lajeng duka, awit Jaka Tarub cidra ing janji. Saking kedadosan punika kasektenipun Nawang Wulan dados widodari ical lan dados manungsa kados limrahipun.
Ing satunggaling dinten Nawang Wulan katemben nutu pantun. Nalika mendhet pantun ing lumbung, Nawangwulan mangertosi rasukanipun ingkang ical kala rumiyin, piyambakipun kaget lan duka dhumateng garwanipun amargi sampun dipun apusi dening Jaka Tarub. “Kakang mas, sakmenika kula nyuwun pamit, kula badhe wangsul dhateng kayangan. Penjenengan damelaken nawang sih panggung alit, menawi nawang sih nangis penjenganagan paringaken nawangsih wonten panggung kala wau, lajeng panjenengan bakar damen ketan cemeng ing ngadhapipun panggung menika, supados kula saged mandap saking kayangan.” Jaka Tarub “Yayi, kula pancen lepat, kula nyuwun pangapunten Yayi, kula janji mboten bakal damel kalepatan malih Yayi, sakestu kula nyuwun pangapunten Yayi.” lajeng Nawang Wulan enggal-enggal ngaggem rasukanipun kangge minggah ing kayangan kayangan. Jaka Tarub “ Yayi...kula nyuwun pangapunten Yayi.....” Jaka Tarub namung saged nuwun mirsani putranipun ingkang taksih alit dipun tinggal ibunipun.
Kapetik saking maneka warna sumber.